Cerita ini dimulai ketika saya diundang untuk berbicara di Attractive Women Conference di Medan.  Tanggal 23 Agustus 2013, saya dan suami berangkat ke Medan dan menetap selama 2 malam. Lalu bersama seorang sahabat dari Jakarta, kami berangkat ke Nias, tanggal 25 Agustus 2013. Kami terbang dengan  pesawat baling – baling yang berpenumpang 80 orang saja, dengan tempat duduk 2 orang di masing – masing sisinya. Di dalam pesawat, pikiran saya mulai berkhayal… Saya akan ngajar banyak orang di pulau Nias. Hmm…!

Kami pun mendarat, sesampai di bandara yang kecil, kami menunggu beberapa saat untuk dijemput. Akhirnya  sahabat Nias kami datang sambil minta maaf karena terlambat, hahahaha.. Gak apa – apa.. Santai saja..

Kami mencoba menikmati setiap moment dan kami segera keluar dari ruang tunggu yang sudah kosong. Kami berjalan menuju mobil yang….. hmm.. saya kaget.. mobil tua milik panti asuhan mitsubisi L 300. Maklum.. di Medan kami dijemput dengan Lexus. Jomplang sekali yaa? Saya terdiam dan mencoba tenang. Masuk ke mobil yang panas, saya masih dikuasai oleh rasa tidak nyaman. Karena belom makan siang, kami berhenti di rumah makan sederhana di pinggir pantai. Selesai makan, segera naik ke mobil lagi. Saya menguatkan hati, bersyukur atas setiap kesederhana saat ini. I said to myself, Its not gonna be bad!

Ternyata kami hari ini akan langsung diajak ke pulau Asu, salah satu pulau terluar yang ada di Indonesia. Perjalanan yang lumayan jauh, 2.5 jam. Kami harus naik ke dataran tinggi dengan jalan yang berkelok – kelok, membuat saya mabuk dan bersandar di bahu suami yang juga sama – sama mabuk, sampai akhirnya turun lagi ke sisi lain pulau, desa Sirombu. Dari sini kami akan naik speed boat selama 50 menit. Karena dermaga yang tinggi, saya harus loncat ke speed boat yang sudah menunggu kedatangan kami. Dalam perjalanan laut kami, ada ikan terbang yang “terbang di dekat kapal”,  pulau – pulau yang terhampar di depan saya, tanpa saya tau satupun pulau mana yang akan dituju. Percikan air dari sisi kapal pun mewarnai indahnya perjalan menuju pulau ini.

Akhirnya… kapal melambat, pulau yang kami tuju ada di depan mata, dan aaahh…INDAHnya. Pasirnya putih bersih… dan ada cottage – cottage sederhana. Mama Silvi, menyambut kami. Karena kapal tidak bisa terlalu dekat dengan pantai, kami akhirnya pindah ke kapal kayu kecil yang membawa kami ke daratan. Hahahahahaha seruuuuu . saya sempat teriak panik karena kapal yang bergoyang ketika sahabat lain naik ke kapal kecil ini. Segera saya menjaga kesimbangan dengan berpegang di sisi kapal. Akhirnya saya menginjakkan kaki saya ke pulau Asu. Seperti mimpi rasanya. Saya seakan – akan lupa tentang pengalaman mobil yang panas dan perjalanan yang memabukan itu.

Ahaaaaa… saatnya makan malam. Kami disajikan dengan Lobster segar yang dipanggang dan ikan kerapu sunuk yang di kukus. Untuk makanan penutup, duren nias dan air kelapa muda. Yummy. Kami ngobrol bercerita tentang Nias yang terpencil tapi indah hingga larut malam. Korupsi yang parah di pulau ini menjadikan masyarakatnya miskin. Sama seperti  daerah – daerah lain di Indonesia. Mengantuk,  akhirnya saya pamit untuk tidur. Malam ini…  saya  tidur dengan suara  deburan ombak dan sejuknya angin pantai. PERFECT!

Jam 5 pagi, saya terbangun, lalu duduk santai di depan balkoni kamar, untuk “mengejar” matahari terbit. OMG! OMG! OMG! Its so..so..so.. beautiful! Ini bukan kalimat hiperbola, tapi ini expresi kekaguman  saya. A million dollar view. Segera saya mengabadikan pemandangan langka ini. Setelah makan pagi sederhana, saya dan suami berjalan – jalan di pinggir pantai. Saya ga bisa ungkapkan keindahan pantainya dan betapa jernih airnya. Ikan – ikan hias besar dan kecil begitu bebas berenang tanpa harus “keselek” polusi. Ga sabar untuk berenang, saya segera berganti pakaian renang dan mengambil peralatan snorkling dan sepatu katak yang disiapkan. Tujuan saya sangat jelas.. berenang sampai bale bengong tempat memancing, sekitar 200 m dari pantai. Saya sebetulnya takut, peralatan snorkling dan goggle yang buram membuat saya tidak bisa melihat apa – apa di laut sedalam 10 m itu. Tapi toh saya sudah setengah jalan, saya memutuskan melawan ketakutan saya dan terus berenang. Kelelahan karena melawan ombak, akhirnya saya sampai di bale bengong terindah di dunia. Mencari tempat berpijak untuk naik dan beristirahat di atasnya. Sayangnya saya ga bisa membawa kamera… ikan – ikan hiasnya dan sekelompok ikan besar berenang – renang, seolah – olah berpose minta untuk diabadikan…aaahhh… sebel. Suami dan sahabat saya menyusul berenang ke bale bengong.  Kami mencoba mengadu nasib lewat memancing. Ikan – ikan besar yang berenang di bawah kami sangat menantang untuk  jadi menu makan siang. Well.. you know what?? Saya ga beruntung. Ga ada satupun ikan yang menyentuh pancingan saya. Akhirnya saya memutuskan untuk menikmati hamparan biru laut di depan saya. Mengagumi ciptaan Tuhan yang luar biasa indahnya. Karena sudah agak siang, kami segera berenang kembali ke pantai. Waktunya makan siang seafood segar dari laut.

Selesai makan, siang ini saya akan mengajar ibu – ibu memasak abon ikan dan mie ikan. Ternyata jumlah yang datang tidak sespektakuler yang saya khayalkan di pesawat. Di pulau yang hanya berisi 17 kk ini, ada 4 ibu (saja) yang saya ajar. Peralatan yang seadanya, membuat saya harus mengubah teknik memasak dan bahan yang dipakai, menyesuaikan dengan keadaan sekitar saya. Alhasil… jadilah abon ikan tongkol dan mie ikan ala Nias. Saya juga mengajar mama Silvi bagaimana memasak lobster dan ikan dengan tingkat kematangan yang benar. Begitu juga dengan beberapa menu sederhana untuk menambah variasi menu untuk tamunya. Senang rasanya melihat ibu sederhana ini begitu haus untuk belajar menjadi lebih baik. Walaupun ia sempat gemetar ketika saya masuk ke dapurnya yang sederhana hahaha…

Saya belajar bahwa Tuhan memberi saya berkat pengetahuan, kemampuan untuk memberkati orang lain juga. Hati saya mengingatkan saya  bahwa proses pendewasaan saya jauh lebih penting daripada segala kemegahan dibalik titel saya. Memberi dampak bisa melalui sorotan media  tentunya baik. Tapi akan ada waktunya juga dimana kita bisa memberkati orang lain dengan cara yang sederhana, asalkan kita mau. Saya menikmati kesederhanaan ini, jauh dari keramaian, jauh dari soroton, jauh dari make up (pastinya). Saya bersyukur bisa menjadi berkat buat mereka di pulau yang terpencil ini. Doa saya , mereka bisa wirausaha dan meningkatkan penghasilan dengan abon ikan  dan mie ikan ini. Pulau Asu, Nias. Keindahan yang tak terkira.