Saya kembali ke bangka setelah memenuhi beberapa panggilan kerjaan di sana, salah satunya ketika saya harus melatih ibu – ibu dari Dinas Kelautan dan Perikanan Bangka Selatan untuk mengikuti perlombaan nasional dengan makanan yang serba ikan (read: seafood). Menarik sekali melihat kreasi makanan yang mereka buat, walaupun ada beberapa hal yang harus diperbaiki. Good job !

Keesokan harinya, saya memutuskan untuk mengadakan demo masak sekaligus memberikan ceramah singkat bagaimana mencapai hidup yang maksimal dalam hidup. Tidak terlalu banyak yang ikut, hanya sekitar 50 orang saja di tempat yang cukup besar. Tapi tak mengapa, kalau saja ada satu saja yang terinpirasi dan hidupnya berubah karena apa yang saya bagikan, saya akan sangat berbahagia.

Tapi bukan ini yang ingin saya ceritakan di artikel kali ini. Contoh hidup yang saya temukan di Bangka ini yang menjadi inti dari cerita ini.

Beberapa tahun yang lalu, ada seseorang  pekerja yang bernama Agus melamar bekerja menjadi supir ipar saya. Ia berasal dari Jogjakarta. Entah apa yang membuatnya bisa “terdampar“ di pulau Bangka. Penampilannya yang kurus ceking, tidak terlalu menarik. Tapi sikapnya yang “enggeh” aja cukup menjadi kekuatannya. Tentunya perjalanan pekerjaannya tidak selalu mulus. Seringkali ia datang dengan muka memelas (entah dibuat – buat atau tidak) tapi  seringkali menyebalkan. Cukup lama bekerja akhirnya ia berhenti menjadi supir pribadi ipar saya. Butuh pekerjaan akhirnya membuat ia meminta pekerjaan di hotel tempat saya bekerja. Alhasil, ia menjadi supir di hotel dan entah bagaimana ia juga sempat pindah ke bagian enginering dan maintanance. Tidak terlalu baik memang hasilnya. Dan tidak jarang ia menyupiri saya saat saya ada di Bangka. Seperti biasa dengan staff yang ada, saat di mobil saya sering mengajaknya bicara tentang menjalani hidup dengan benar.

Tak lama setelah itu, saya mendengar akhirnya Agus berhenti dari hotel dan membuka kios yang menjual pulsa di dekat hotel. Ia tidak pernah takut untuk menyapa saya, berbeda dengan orang – orang yang berhenti karena ‘bermasalah”. Well saya acungi  jempol untuk hal itu.

Mencoba menjalani hidup, Agus mencoba membuka travel sendiri. Saya pun tidak mengerti bagaimana caranya, tapi kok ada saja jalan yang bisa dia dapatkan untuk mencapai mimpinya. Ia juga mulai dengan hobby barunya yaitu photography. Dan hasilnya harus diakui cukup bagus.

Sekarang Agus tampaknya lebih happy dengan hidupnya. Ia manjalani tour kecil – kecilan sementara menekuni hobbynya. Ketika ia menawarkan untuk mendokumentasi acara saya, kakak saya pun bertanya, berapa feenya Gus? Agus dengan gaya khasnya menjawab “Non (demikian ia masih memanggil kakak saya), mana berani saya minta fee, orang dulu Bapak yang nyambungi hidup saya”.

Wow….. super sekali jawabannya (meniru Mario Teguh). Tapi saya mau katakan ia bukan orang yang lupa kulit. Ia tahu bahwa keberhasilannya dalam bisnis ini karene juga tempaan orang – orang di sekelilingnya. Saya berdoa ia akan tetap menjaga sikapnya dengan baik.

Selesai acara, seorang teman bertanya kepada ipar saya” itu kan sopir kamu ya?” mereka terlibat percakapan singkat mengenai Agus sang bekas supir. Ipar saya pun menjawab dengan senyum “ia sedang menjalani hidupnya yang maksimal” hahahaha.

Seperti yang sering saya ceritakan sebelumnya. Setiap kali ke bangka, saya PASTI ke pasar untuk memburu bahan – bahan segar yang sulit didapat di Jakarta. Biasanya, kami membawa mobil karena harus membawa belanjaan yang banyak. Memasuki pasar yang padat…, parkir adalah isu utama yang harus kami hadapi. Mobil berlapis – lapis membuat saya bingung.

Prittt… terdengar suara peluit, seorang pria yang membawa koran meniupkan pluit untuk mengatur mobil yang masuk. Dalam hati saya berkata “ini orang kerjaannya apa ya sebenarnya?”

Tak lama kemudian saya melihat ia memindahkan mobil parkir dengan cekatan. Nah lhoo…. ada satu kerjaaan lagi. Tapi kok dia bisa pindahkan mobil seenaknya aja? Pemiliknya kok ngasih ya??

Diam – diam saya mengamati tukang parkir ini. Ternyata ia sudah sangat dipercaya sehingga pemilik mobil dengan entengnya menyerahkan kunci mobil kepadanya. Woww….. dan beberapa kali ke pasar (setiap kali balik ke Bangka) saya menemukan tukang parkir ini.

Saya akhirnya menghampirinya dan bertanya sudah berapa lama kerja di sini?

5 th jawabnya.

Nama kamu siapa?

M. Jafar. Jawabnya singkat.

Ok saya ingin fotoin kamu boleh yaaa, tanya saya.

Iya mengangguk dengan cepat. Sebelum difoto, ia sempat lari untuk memungut uang parkir dari mobil yang menunggu untuk membayarnya. Luar biasa kan?? Dan klik… foto dehh

Woow… apa yang bisa kita pelajari dari kedua orang ini?

Posisi bukan segala – galanya. Berfungsi jauh lebih baik daripada memiliki posisi tanpa dampak.

Bener kan???