Setelah diundang dari bulan Agustus 2013, tiba waktunya saya menjadi pembicara di Padang. Cuaca yang tidak bersahabat di Jakarta dan ditambah bonus banjir, membuat saya harus berangkat lebih pagi, karena takut telat. Suamiku memaksa untuk menjadi navigator sementara supir juga bela – belain datang menerjang banjir untuk mengantar saya ke airport. I am so blessed.

Bersama ipar saya yang juga menggungu di bandara karena baru mendarat dari Bangka, kami akhirnya berangkat ke Padang sambil membawa boardgame kuliner yang saya buat. Padang… Kota yang saya dengar sangat – sangat – sangat kaya dengan kulinernya. Ga sabaraaaaann pengen icip sana sini.  Benar saja, sesampai di Padang, kami tidak langsung diantar ke hotel, tapi langsung makan…. di restorant di daerah bandara.

Aahhhh… serunyaaaa… ada beberapa makanan yang tidak pernah saya temui di Jakarta.

Very interesting.

Sesudah makan, kami segera diajak makan es durian. Aahhh… kapan dietnyaaaa???

TRAVEL=CULINER=NO DIET

Kami pun tak lupa membeli keripik balado dan oleh – oleh ala Padang di toko ROHANA KUDUS yang berdiri sejak 1970. Mencoba sana sini dan berakhir dengan 3 dus oleh – oleh. Malam setelah kumpul dengan ibu – ibu di sana, lagi – lagi makan…. asam pade, ikan bakar… saya belajar menguasai diri dengan hanya icip – icip saja. Kondisi saat ini : belom lapar sudah makan lagi….. panitia sangat excited untuk mengajak saya makan…

Keesokan harinya kami memaksakan diri untuk melihat pasar terdekat di kota Padang. Saya akhirnya membeli bumbu – bumbu rempah, gula aren dan beberapa bahan lain. Dilanjutkan dengan makan pagi di warung terdekat. Menarik untuk mecoba makanan baru seperti bistik minang (yang sangat tidak mirip steak).

Siangnya kami pergi ke Bungus, melewati Teluk Bayur yang indah. Gulai kepala ikan kembali menjadi sasaran kami. Kami juga mencoba babotok, gulai daun talas yang dikukus dan diberi kelapa. New food for me. Kosakata baru buat perbendaharaan kuliner saya.  Saya juga mencoba lompong, pisang yang dimasak dengan tepung sagu dan dibakar seperti otak – otak. Enakk.

Keesokan paginya, jam 5 pagi kami berangkat ke Bukit Tinggi, perjalanan yang menempuh waktu 2 jam itu sangat menyenangkan. Sesampai di Bukit Tinggi kami segera menuju Restaurant Gulai Itik Lado Mudo Ngarai. Enaknya gulai itik ini membuat saya memutuskan untuk membungkus 2 itik untuk saya bawa ke Jakarta sore ini. Setelah itu kami juga menuju Gua Jepang,  Panorama Ngarai Sianok dan beberapa tempat wisata lain seperti Jam Gadang dan Janjang Koto Gadang.

Bukan Desi namanya kalau ga mampir ke pasarnya. Kami akhirnya pergi ke pasar bawah Bukit Tinggi…

Adduuuuhhh seru bangeeettt!

Sedang melihat – lihat bahan makanan, tiba – tiba sekelompok anak kuliahan menghampiri saya untuk berfoto… ahh hahahha…. pose duluu deeehhh. Ok.. kembali ke pasar….Banyak bahan – bahan makanan yang tidak umum di temukan di Jakarta. Katakan saja beragam jenis jeruk asam (sejenis nipis) nya. Rempah – rempahnya… pengen rasanya membawa semuanya ke Jakarta.  Saya berusaha menahan diri dengan membeli sedikit sedikit saja/ kami pun mencoba Nasi Kapau yang hanya ada di Bukit Tinggi, jajajanan pasar nya seperti pisang bakar dll.

Seru…….

Karena perjalanan yang cukup jauh, kami segera kembali ke Padang, takut ketinggalan pesawat hahaha.  Namun kami menyempatkan berhenti dan mencoba sate padang Mak Syukur yang original…. memang beda dengan yang di Jakarta… lebih nendang.

Ahh….. memang makanannya enak – enak.

I love to come back to padang to explore more.. dengan satu janji…. boroooooonggg…..