Hai…. Udah lama banget ga menuangkan cerita di blog ini… Hahaha. So sorry.. beberapa kesibukan membuat saya harus memperioritaskan beberapa hal. Tapi kangen juga pengen nulis cerita. Well.. anyway… saya pengen cerita nih. Setiap bulan Mei, Sumarecon selalu ada acara Jakarta Food Fashion Festival (JF3). Dan Mei selalu menjadi bulan yang setiap malam macet, cet, cet. Ya mau gimana lagi.. emang seru sih acaranya, wajar aja dari seluruh pelosok Jakarta ngumpul di Kelapa Gading, untuk makan dan fashion. Tapi bukan ini inti cerita saya….

Satu kali teman baik saya Anggie bbm dan ngajakin ikut kompetisi lari 5 km. namanya wine and cheese run. Membaca ajakan itu, saya berpikir…Hmm… Running is NOT my thing. In fact, the last things I want to do is running. “Cepetan nih, mau ga?” tanyanya lagi, sisa 6 tempat doang. Yuk rame-rame… ajak anak- anak juga,’ katanya lagi.

Pengen nyoba tapi ragu – ragu, tapi ga tau napa, saya akhirnya bilang ok. Saya pikir toh daftar doang, kapan aja mau batalin bisa. Apalagi hubby kakinya masih bengkak. Dia juga ga mungkin mau lah. Tetap harus dapat konfirmasi dari hubby, saya sedikit acting seolah – olah mau ikut lari (walaupun berharap dia bilang ga), saya tanya ” kita ikut ya running yg 5k?”.

Diluar dugaan saya, eh…. dengan santainya hubby bilang ok.

Gantian saya yang kaget…? lhaaaaa tadinya ga mau kok sekarang enteng banget bilang mau ikut.

Hm… not a good sign for me. Having No choice..

Saya bbm temen saya bahwa kita ikut. Semangat karena kita ok, Angie segera membayar uang pendaftaran utk 5 k run. Mungkin takut kita mundur lagi. Hm.. no way out nih kayaknya…. rada nyesel juga bilang iya. hiks…

Kadung tau bahwa saya ga mungkin batalin juga, akhirnya saya nyusun rencana. Tengsin juga kalo sampai saya ga bisa nyelesain larinya, atau sampai pingsan. 2 minggu sebelum hari H, saya memutuskan untuk “latihan” lari di taman. Menyemangati diri sendiri… Ayo Desi… you can do it! Pagi – pagi..saya mulai lari di jogging track… 250 m pertama, saya udah ngos – ngosan, tapi tetap dipaksa lari. 500 m pertama.. badan udah ga bisa kompromi… tapi tetap saya paksa lari… sampai akhirnya saya menyerah di 2 km saja. AMPUUUUUNNNN dah!

Deritaku belom selesai. Keesokan harinya, kaki sakit dari tumit ke panggal paha…. alamaaakkkkkk…. Saya mesti jalan pelan – pelan karena sakit. Turun tangga sakit, duduk sakit… lengkaplah sudah penderitaanku. Saya mulai bbm temenku, kaki saya sakiiittt….. Dia pun menyarankan untuk istirahat sehari lalu lanjutkan keesokan harinya. Tapi somehow.. saya merasa saya mesti paksain latihan lagi, sekalipun masih sakit. Akhirnya saya nekat… lanjutkan latihan.

Dan ternyata kali ini lari di treatmill 5 km selesai bisa saya selesaikan. Alangkah senengnya, ternyata yang tadinya saya pikir mustahil, bisa saya jalani.

Keesokan harinya , lari lagi 5 km, hingga beberapa hari ke depan saya selesaikan lari 5 km. Sakitnya juga tak kunjung hilang, walaupun sudah mulai membaik.

Saat di treatmill, tantangan untuk latihan berhenti lari besar sekali. Saya ingat beberapa kali ketika sedang lari di treatmill dengan target 5 km, tiba tiba terdengar musik latin yang kasih tanda bahwa kelas zumba segera mulai.

Oh… I love zumba. Tapiii… gimana dong… lagi lari nih… pikiran saya terbelah… lari… zumba…lari..zumba. kayaknya lebih fun and happy ikut zumba nih…. arrrggghhhhh..

Tapi saat itu hati berkata lain. “enough for the fun part, now its time to train your endurance”.

Saya menarik nafas panjang…. I have to agree with that.

Ini saatnya untuk melatih saya melatih daya juang, karena hidup tidak akan lebih mudah. Tanpa daya juang yang kuat… saya ga akan bisa bertahan. Lewat latihan ini saya harus melatih daya juang saya. Alhasil saya lanjutin lari sampai target yang ditentukan.

Kaki sakit?? Yes!

Ga bisa ikut yang fun and happy? Yes!

Tapi saya ternyata mampu melewati apa yg saya pikir ga bisa… that is the BIG YES!

Sakit itu sementara, tapi akibat dari menyerah bisa selamanya.

 

Hari H tiba, bangun pagi – pagi.. kami rame2 ke start line.

Phew.. rame banget lebih dari 1000 runner yang join hari ini.

Saya deg – degan… bisa selesai ga ya?

Ready…. set.. go! I run and run..

dan saya temukan, lari di treatmill dan alam terbuka adalah 2 hal yang berbeda. my hubby, my son, my friends, all in front of me. Saya ketinggalan…. tapi somehow… saya bilang ke diri saya sendiri..

You are your own competition. Just do your best.

Target saya adalah Saya harus terus berlari tanpa henti hingga garis finish. Oh man…. its harder than i thought! Saya ngos – ngosan lagi… tapi perlahan saya melewati runner – runner yang lain. Di KM yang ke 3, tiba – tiba saya merasa perut kanan bawa saya sakit. Aduhh. Namun saya sudah bertekat untuk terus berlari. Dan yaa saya terus berlari… hingga perlahan lahan sakit itu hilang dengan sendirinya. Di KM ke 4, kepala saya mulai pusing, takut jatuh pingsan, saya memperlambat lari saya.

I HAVE TO FINISH IT! Garis finish sudah kelihatan di depan saya, tapi tampak begitu jauh untuk dijangkau….. arrghhh….. terus lari..lari..lari… dan FINISH!

Saya segera mencari tempat untuk bersender dan mengumpulkan tenaga… saya sangat kelelahan tapi saya senang , YES, TERNYATA SAYA BISA DAN SAYA MAMPU! Dan saya selesaikan 5 KM dalam waktu kurang dari 36 menit….

 

Lewat olahraga sederhana ini, Saya merenung…

Doing things that we like, it sharpens our skill and expertise

Doing things we dislike, it trains our endurance and never give up spirit.

 

Endurance atau daya juang itu sangat penting, karena jika kita tidak memilikinya, kita akan mati. Bayangkan tentara yang tidak punya daya juang di medan perang.. ia akan mati dengan cepat.

Kita adalah tentara yang ada di medan perang kehidupan, daya juang bicara tentang hidup atau mati. Jika kita mau renungkan, jaya juang adalah KEHARUSAN, bukanlah suatu pilihan. Saya berdoa supaya kita bisa melihat sisi lain dari hidup, being happy doesn’t always good, being unhappy doesn’t alway bad..

Semoga menginspirasi….

 

 

Psst… Btw..  Sept 14 , saya menantang diri untuk ikut 10 k di Bali marathon. Apakah saya sudah menyukai lari? Tidak juga… J