Beberapa saat yang lalu saya di telepon oleh pihak Masterchef Indonesia. Mereka minta mempersiapkan salah satu menu yang menggunakan sarang burung walet untuk Pro Chef Challenge Masterchef Indonesia Season 3. Saya segera memutar otak, apa yang akan saya sajikan. Memasak sarang burung walet adalah hal yang biasa buat saya. Makanan ini juga sering saya makan karena memang kasiatnya yang bagus. Asam aminonya tinggi, baik untuk pertumbuhan sel terutama untuk ibu – ibu hamil, untuk orang tua yang mengalami pencernaan dan untuk daya tahan tubuh. Belom lagi saat ini sarang burung walet juga baik untuk kecantikan karena colagennya tinggi, membuat kulit semakin kencang. Mumpung harga sarang burung sekarang relatif murah dibandingkan 3 tahun lalu, saya memilih sarang burung walet untuk dihidangkan di tantangan kali ini.

Well anyway… saya memcoba membuat bola udang tim dan sarang burung walet, tapi ga happy dengan cita rasanya, saya coba lagi dengan ayam, tapi juga tidak happy. Akhirnya saya memutuskan membuat dessert dengan menggunakan pumpkin puree dan ubi ungu. Saya menambahkan sedikit santan untuk creamynya dan mengukus sarang dengan goji berry, pandan dan gula batu.  Beberapa kali eksperimen saya lakukan untuk mendapat tekstur yang sempurna. Seorang teman, chef asal Malaysia yang tinggal di Perth,  memberi saya cara baru untuk platting yang berbeda. Setelah beberapa kali bertukar pikiran dengan produser Masterchef, akhirnya saya memutuskan menambah satu warna di soup sarang burung saya dengan menggunakan edamame. Jujur aja… ga mudah membuatnya, karena kadar air yang berbeda di tiap ingredient menentukan konsistensinya juga. Bukan hanya itu, saya sebelumnya belom pernah buat. 3-4 kali eksperimen saya lakukan di rumah. Sampai hasil yang terbaik.

Masuk ke dalam gallery Masterchef 3 membawa hidangan saya, saya akhirnya memasak bersama kontenstan.  Saya sekaligus  mendatangi  station mereka untuk mengecek kondisi mereka. Saya agak sedikit kaget karena hampir semua kontestan menggunakan pressure cooker. Well ga salah sihh.. tapi yang mereka tidak ketahui adalah ketika mereka merebus dengan pressure cooker dan menambahkan garam, rasa asin di garam akan terserap dalam bahan makanan yang dimasak. Semestinya garam hanya sedikit untuk menyeimbangi rasa manis yang ada. Toh ini tantangan dessert. Tapi kepanikan kontestan terlihat jelas…. hahahaaa… kayak saya dulu jugaa.

Di saat penjurian, para chef master memutuskan untuk memisahkan makanan ke dalam 2 group. Yang presentasi bagus dan yang buruk. Saya agak sedikit kecewa dengan hasilnya, tidak ada satupun yang berhasil mencapai citarasa sekaligus penampilan yang serupa dengan saya.  Piring Pak Yogi paling tidak ingin saya lirik karena asli berantakan sekali. Tapi ternyata cita rasanya yang paling enak, sekalipun konsistensinya  pureenya terlalu encer. Saya mendadak ingat apa yang dikatakan Chef Degan. Orang buta aja harus bisa mencicipinya dan bilang enak. Itu standardnya. Chef Marinka pun menegaskan penampilan bisa saja menipu. Buktinya dari dari sekian banyak yang penampilannya bagus, cita rasanya tidak ada yang pas.

Saya belajar bahwa dalam memasak, kita harus memakai common sense.

Tidak boleh kaku dengan dengan situasi di depan kita. Bersiaplah selalu dengan perubahan.