Semenjak menang dari perlombaan Master Chef Indonesia Season 2 dan mendapat julukan ‘The Best Amateur Chef” , saya ‘seolah – olah’ otomatis menjadi ‘Chef’.  Julukan yang tidak pernah saya beri untuk diri saya sendiri tapi dilontarkan oleh banyak orang yang bertemu dengan saya. Thanks to media, banyaknya acara memasak di TV saat ini sangat mengangkat profesi chef yang dulunya profesi ini tidak pernah menjadi pilihan. Tapi sekarang, profesi chef sudah menjadi salah satu  pilihan yang cukup bergengsi. Mereka bisa keliling dunia dengan modal kemampuan pengetahuannya dan pengalamannya tentang kuliner. Keren kan??

Apakah saya seorang chef?  Well… Yang pasti saya seorang pecinta kuliner. Memenangkan Master Chef tidak menjadikan saya otomatis seorang Chef. Walaupun tidak bisa dipungkiri, keinginan saya belajar untuk menghasilkan karya indah seperti profesional chef sangatlah kuat. Saya sering berexperiment dengan “gadget” kuliner yang baru, mencoba teknik yang baru, do some research untuk meningkatkan kemampuan saya di bidang kuliner. Lalu..  saya  tampil di acara masak di TV dengan masakan sederhana dan dikenal sebagai chef. Hmmm…… Sebegitu mudahkah mendapat titel chef itu?

Mau cerita sedikit yaa… Saya dan suami baru kembali  jalan – jalan dari Bangkok dengan Chef Degan dan istri,  Ibu Nike. Kami mencoba mencicipi bermacam – macam makanan yang ditawarkan di negeri ini.  Dari makan di pinggir jalan  sampai restoran fine dining. Dari home food sampai molecular gastronomy. Dari yang harga ribuan rupiah hingga jutaan rupiah.  Menarik sekali melihat kekayaan kuliner yang ada.  Saat dinner di Vertigo, roof top resto di hotel Banyan Tree dengan viewnya yang luar biasa. saya mencoba the best steak ever, kagoshima wagyu steak  seharga 4200 bath (sekitar Rp. 1,4 Juta) yang direkomendasikan oleh Chef Degan.

Dipresentasikan sangat sederhana sebagaimana steak dihidangkan,  dengan tambahan tomato cherry yang masih ada tangkainya. Tak menunggu lama,  saya memotong steaknya dan memasukan kedalam mulut…… aarrrghhhhh….. i experience mouthgasm. The steak melts in my mouth, begitu lembut sepertinya saya ga perlu berusaha  mengunyahnya lagi. Its DAMN GOOD! Sayangnya potongan 250 gr itu terlalu besar buat perut saya yang disudah sempat menyantap hokkaido scallop sebagai makanan pembuka. Cuaca yang bersahabat dan sejuk menambah kesempuraaan malam itu. Complimentary Champagne yang diberikan membuat badan sedikit hangat dan kepala sedikit pusing hahahahha. Maklum.. saya bukan peminum alkohol, tapi untuk event – event tertentu boleeehh dooonggg.

Chef Degan  menyarankan untuk makan pagi di hotel mandarin Oriental yang terkenal as the best european food-nya. Duduk di terrace nya dengan river view, enjoying great breakfast with great friends. Makan, ngobrol, mengkomentari  hidangan yang kami santap, great time. Tak lama kemudian excutive chefnya pun datang menghampiri kami lalu  terlibat obrolan seru dengan Chef Degan. Ternyata dulu seorang trainee dibawah Chef Degan dan sekarang menjadi Executive Chef. Wow… menarik mendengar cerita mereka.  Di sinilah saya banyak belajar ilmu – ilmu  chef yang sesungguhnya.

Melanjutkan breakfast kami, Chef Degan bercerita pengalamannya selama 30 tahun di dunia kuliner. APA?  30 tahun? Ya! Pengalamannya dari awal di dunia kuliner, dimana ia belajar dari bawah hingga sampai posisi saat ini. Butuh puluhan tahun, MEMPELAJARI dan MENJALANI teknik kuliner yang ada, ditempah mental dan kemampuannya untuk menjadi seorang chef handal. Pengalamannya yang menjadikannya the real MASTERCHEF!

Mendengar ceritanya saya semakin mengerti bahwa menjadi chef tidak semudah itu dan tidak sesingkat itu. Gak heran parahnya chef professional suka ngamuk – ngamuk ketika seorang yang bisa masak dan muncul di TV dengan julukan Chef. Cook bukanlah chef.. Butuh proses yang panjang untuk mencapai titel itu.  Tapi tentunya proses bisa dipercepat jika kita memiliki attitude yang baik dan keinginan besar untuk belajar dan diajar.

Proses yang dijalani dengan good attitude akan menghasilkan result yang baik pula #desiquote

Saya pribadi terlalu jatuh cinta dengan kuliner dan akan terus bergelut dengan dunia kuliner. Memasak di TV hanyalah bagian dari misi saya untuk memotivasi ibu – ibu,  bapak – bapak dan anak – anak muda yang ingin membagi kasih lewat memasak. Memasak comfort food yang bisa dimakan bersama keluarga, seperti yang saya alami sehari – hari. Apakah saya seorang chef? Saya harus “tau diri” bahwa saya sangat belom layak menyandang gelar chef. Well you know what? You can call me, Bu Desi, Mami Desi, Kak Desi, Mbak Desi, but… just Don’t Call Me Chef.